kemaren belum sempat kirim, sebenernya sudah muter2 pontianak mencari intrasco (karena sudah langganan semasa di jogja), tapi pas ketemu kantore malah ia tutup gasik (awal) krn takut hujan, kata warnet sebelahnya. akhirnya berhasil hari ini, tapi tidak di intrasco. mengapa? karena si penjaga kantor bilang kalo ada problem finance ato apa di bandara, jadi ia tidak bisa kirim dokumen. So, me pindah ke JNE, yang meski lebih mahal 1.300 rupiah (kalo di intrasco 12rb, di jne 13.300), tapi JNE lebih jlas, hehe…
ia bilang gini by sms: “nang kene gak oleh ngomong saru kiq, gakoleh misahmisuh, n gakoleh2 laine. Pokoke josh deh”.
Nah, pertanyaannya, apakah ia memang bener2 di Mekkah sana? Soale dia ber-track record ulung soal ndobos alias ngapusi, hehe. Tapi keto’e sih beneran. Yogh, nek bener, mudah2an berhasil alias mabrur ae…
membaca ini, saya teringat seorang kawan yang cukup unik kisah hidupnya. dahulu ia seorang mahasiswa yang cerdas, lalu menikah di usia muda dan tidak menyelesaikan kuliahnya. ia lalu bekerja menjadi pengedar (bukan narkoba) pupuk, kepada para petani. lalu ia bosan, duitnya nggak kumpul, dan akhirnya menghilang entah kemana. suatu ketika ia call me back, dan ia sudah ada di sby, punya satu anak *dari istri yang baru, yang lama dengan satu putri sudah divorce* dan menjalani hidup baru. entah aku lupa kerjanya apa…Tapi kayaknya dia menemukan ketenangan dan jalan hidupnya di sana…
fotonya bagus. sayang aku wong ndeso, jadi blum pernah naek benda yang namanya roller-roller itu. kayaknya sih nggak bakalan mabuk, sudah biasa naek bus ekonomi, kereta api ekonomi, dan laen-laen yang ekonomi, bahkan kereta barang, dan alhamdulillah sehat ora mabuk ato puzink. so, klo sempat memang pengen naek roller coaster, tapi kapan ya….
cepet memang. jam 12.12 sudah selesai. kali ini masmu’ jum’atan di masjid darul falah, kotabaru (di sini disingkat Kobar, rodo sangar yo, hehe). khotibnya seorang bersurban, suara menggelegar. lumayan fasih, tapi ketoke bikin pendengar miris, suarane iku lho…koyo wong ngamuk. tapi jadi membayangkan khotib di makkah sana, diimami para syaikh… hmmm…para jama’ah haji indonesia sekarang lagi ngapain ya? kapan yo bisa nyusul ke sono….
Setelah pagi2 ditelp ke itu sekolah, dijawab oleh di seberang sana katanya nama tersebut (El-Saud) pernah kerja di sekolah tersebut, namun sekarang sudah pindah. Wah… Ia bilang kalok pindahnya ke ngabang, ikut istrinya. Hmm…semakin gelap saja nih petunjuk menuju si Sanggau, apalagi si penjawab telepon bilang kalo ia tidak mengetahui alamat ataupun contact number si Sanggau, tersebab si Sanggau belum pernah bersambang ke itu sekolah setelah pindah tersebut. So,… belum tau langkah selanjutnya….Anyway, bagi para pengunjung yang ada informasi tentang si Sanggau alias Elsa alias Khalid El-Saud, yang sekarang di Ngabang, Kalbar, silakan kontak saya…
Kawan yang satu ini bisa dibilang merupakan milestone atawa batu penanda keterikatan Masmu’ dengan negeri borneo. Yakni, me dengan kawanku ini awalnya bertemu di kapal menuju pulau khatulistiwa, perjalanan Masmu’ yang pertama to that island. Kala itu kapal yang berangkat pada awal puasa dinaiki pula oleh beberapa mahasiswa dari Jogja. Kapal berangkat skitar sore hari, dan pada pagi harinya arek-arek nom (pemuda, kalok di ponti sini dibilang bujang) sudah asyik nangkring di kafetaria yang berada di dek enam ato tujuh gitu, pokoke paling atas, di bagian buritan. Musik jedar-jedor, arek-arek udut—walau puasa—tapi ada beberapa yang puasa, termasuk Masmu’. Tapi kami berbaur asyik obrol2 tentang suasana laut, guyon2 entah opo sing penting nyambung ngerti kabeh. Kami dari berbagai latarbelakang, etnis, kampus, kampung, campurbaur rajlas. Nah, di antara kawan2 seperjalanan ini, yang berlanjut perkawanannya ada dua: one named Elsa (then known as Sanggau), dan satu lagi (wah, lali jenenge masmu’), tapi ia arek nasrani yang kuliah di akademi musik jurusan piano deket percetakan KR. Oh ya, si pemain piano ini cukup unik, sebab kami ketemu lagi tanpa sengaja di kapal yang kunaiki bersama kakkik mybro ketika hendak melamar mywife. Back to Sanggau, ia menjadi cukup dekat perkawanannya sebab sepulang dari Borneo back to Jogja, ia menyambangi markas anak2 laela. Beberapa waktu ia nongkrong bareng anak laela, terutama mentraktir nginternet. Ia saat itu blum bisa internet ataupun komputer, so ia pun sering ngebosi Masmu’ dan beberapa kawan laela untuk ngajari ia internet. Sehabis ngenet ia akan ngotak-atik komputer rental laela, bikin “internet mati” katanya. Mungkin maksudnya web-offline, hehe. Ia memang ngotak-atik frontpage, dan dengan bahasa inggrisnya yang pas-pasan sambil tak kenal lelah nanyak-nanyak ke anak laela yang lumayan paham english, ia pun bisa membuat desain web ala kadarnya. Perlahan kemampuannya meningkat, dan ia pun sering nginternet sendirian, lalu pulang2 sudah bawa donlot-an macem2. Malah, ia katanya mau dapet greencard lottery dan pergi ke Amerika. Singkat kata, ia suatu ketika pergi (mungkin pulang kampung atau ke amerika?) dan tidak ada kabarnya lagi.Tahun 2006, tepatnya 13.04.2006 20:00 (ternyata catatan tersebut bisa ditemukan, wah ada gunanya juga) ia kontak via sms dan telp, katanya sepulang dari australia [ia tidak jadi ke amrik] ia sudah dua tahun menjadi tenaga tata usaha di sebuah SMP negeri di Sanggau. Tahun 2006 itu sebenarnya Masmu’ ada ke Ponti, yakni pada bulan juli-agustus, namun sayang catatan tentang SMP mana dan nomor telp tersebut tidak terbawa {sbnarnya bawa hardisk, tapi tidak terpikir untuk membongkar file yang ada catatan tersebut—ironis, hehe}. Nah, kemaren sebelum brangkat ke ponti, dari jogja sudah diancang-ancang untuk nggoleki file yang ada data tersebut, ataupun ngorek2 nomor2 di phonebook yang ada clue ke Sanggau. Trial SMS ke suatu nomor, ternyata itu temannya, dan sayangnya kok ya gak sempat tanya nomor Sanggau berapa. Dan anehnya nomor dan percakapan itu ilang. Percobaan kedua adalah menelpon nomor yang tersave sebagai sanggauhome. Ternyata ketika ditelp itu adalah sebuah toko baju di Bodok, Sanggau. Dan si penerima telp, yang maybe pemilik itu toko, tidak mengenal orang named Sanggau (tentu saja masmu’ menyebutkan real and full name si Sanggau). Sudah 10 hari di ponti, belum sempat juga memperoleh cara ke Sanggau. Buka-buka buku telp, teryata SMP di sanggau ada sekitar 10-an, wah kalo nelpon satu-satu lumayan juga tuh, pegel dan biayanya. Jadi, blum terlaksana.DAN akhirnya, malam ini tersebab insomnia, turu raiso-iso, terpkir untuk searching saja file txt yang mengandung kata sanggau. Akhirnya ketemu juga, dan didapatlah data tahun 2006 di atas. Ketika di crosschek dengan data di buku telepon, ketemulah SMP itu beralamat di Jl. Merdeka. Namun, nomor hp Sanggau tidak aktif alias tidak bisa dihub, jdi besok pagi dicoba menelpon nomor sekolah tersebut, mudah-mudahan sanggau masih kerja di sana. Gtu…
Nayla yang biasanya di Yugyo sana gak punya teman, di ponti ini lumayan gembira. Ia punya teman, tak lain sepupunya sendiri named Zharfan. Dulu2 sih karena masih kecil, mereka belum bisa berkomunikasi. Nah, sekarang mereka sudah bisa maen game bareng, terutama Arthur kelinci, juga maen kejar2an, dll. Seneng juga melihatnya…
Wah, ngupload file undangan baru separoh jalan, penunjuknya bilang kalo masih 40 menit lagi. Wadaw…padahal warnet ini gerahhhhhhh banget….pye yo…pesen minum dulu kali ya….*telusur dompet adakah keping2 receh masih tersisa*
Tersebab journey ke west borneo ini, Kame’ (ini istilah local untuk Me) kerja jarak jauh berbantuan Mael ex-laelist (kalok laelist gak ada istilah eks-eksan kali ya, maksude mael dulu pernah working together karo aku, sekarang ia punya company sendiri), terutama untuk kerjaan bikin undangan manten (nikahan). File-file yang kebetulan pesanan dari ponti sini, kuunggah alias upload ke 4shared.com, dan lumayan mael bisa mengunduhnya dengan lancar. Cuman, file coreldraw yang ukurane rata2 lebih dari 30MB itu butuh sekitar 30menit per file untuk mengunggahnya. Lumayan suwe yo,,,,. Sampek ngoyot masmuk… Untunglah sambil bengong upload, diisi dengan ketik2 ini posting sambil denger para pontiers maen game online… Yo lah…